Lokasi Pengunjung Blog

Tuesday, September 16, 2008

Mouthpiece..., muten please!



Seperti mimi lan mintuno, begitulah mouthpiece dan reed. Saxophone berbunyi hanya jika mouthpiece ditiup (bukan sekedar diemut!). Mouthpiece ini ceper, mirip paruh bebek cerewet, si Donal. Bahannya bisa kayu, metal, atau ebonit. Sedang reed terbuat dari bahan semacam alang-alang (?) yang diiris tipis, ditempelkan di sisi bawah mouthpiece dan diikat kencang dengan ligature. Besar kecil mouthpiece mengikuti ukuran saxophone. Jika kecil, kita masih bisa meniupnya di sudut bibir sehingga masih bisa bersaxophone sembari nyengir. Kalau saxophonenya gede, mouthpiecenya bisa segemuk pisang ambon. Ampun deh!

Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

Seputar Sosok Saxophone

Lurs, supaya tidak kebingungan dengan istilah di seputar saxophone, ada baiknya kita telanjangi dulu bodi saxophone yang sexy itu. Bentuk tabungnya tidak silindris tapi mengerucut mirip belalai gajah. Ukurannya mulai setengah meter sampai bermeter-meter. Berhubung ada yang berukuran besar, supaya enak dipakainya dan tidak klowor-klowor kedodoran, maka perlu diringkas. Bagian ujung dan pangkalnya ditekuk sehingga hasilnya mirip model cangklong, pipa untuk merokok.

Di sekujur tubuhnya banyak "bopeng". Lha, kagak sexy lagi dong? Ya, apa mau dikata, sebab tanpa bopeng-bopeng itu saxophone tidak bisa bunyi do re mi. "Bopeng" yang berupa lubang menganga itu dipasangi tutup yang bisa dibuka-tutup. Tutup-tutup itu ada yang dirangkai sehingga dapat menutup lubang secara bersamaan.

Anatomi saxophone dapat disebut mulai dari atas: mouthpiece yang diemut sewaktu memainkannya, neck tempat memasang mouthpiece, main body tempat lubang-lubang alias tone hole berada, bow yang bentuknya murup huruf "U", serta bell yang ujungnya mencorong, kayak corong. Pada main body sebelum bow ada kait - terbuat dari plastik ataupun metal - tempat ngasonya jempol sehingga diberi nama thumbrest. Beberapa senti di atas thumbrest ada strip ring, tempat cantelan strap neck. Rib dan juga pillar terpatri di main body. Bagian-bagian lain lagi diantaranya adalah key rod, key pad, resonator, screw, cork dan masih banyak lagi.

Tapi kita tidak usah pusing dengan aneka nama itu, langsung saja mainkan saxophone kesayangan sambil bergaya..., Fly Me to The Moon..., dst, dsb, dll.
Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

Ukuran Vital

Berbeda dengan tuts piano yang dapat menjangkau banyak nada, mulai dari do paling rendah hingga do paling tinggi alias beroktaf-oktaf, saxophone hanya mampu menjelajah beberapa oktaf saja. Makanya, ia pun dibuat dalam berbagai ukuran demi menghasilkan nada selengkap piano. Jadilah saxophone ukuran S, M, L, XL, double X, dan bahkan triple X. Pokoknya, mirip ukuran baju deh. Namun, pembagiannya bukan seperti itu, lebih merujuk kepada jenis suaranya.

Wilayah nada tinggi diwakili saxophone mini, sedangkan untuk nada rendah menjadi urusan saxophone berukuran panjang dan besar. Total semua macam saxophone ada 14. Semuanya - kalau mau - dapat dimainkan bersama, ada yang kebagian suara sopran, alto, tenor, bariton, bas, maupun kontra bas.

Dari 14 macam itu, yang sering santer disebut adalah saxophone sopran, alto, dan tenor. Yang sopran bentuknya lurus seperti yang dipakai Kenny G. Sedangkan golongan alto bentuknya sedikit melengkung seperti huruf "J". Jenis ini biasa ditiup oleh Dave Koz. Di atasnya alto ada saxophone tenor dan biasa disebut saxophone jazz. Yang lebih besar lagi, saxophone bariton. Saking berat dan besarnya, bagian bow atau bell nya jadi sering rusak, penyok kepentok-pentok.

Wis jan, saxophone enak tenan...

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

Sax..., bukan saks, bukan seks.

Lurs, karena SAX itu adalah nama orang (Adolphe Sax, sang penemu saxophone), maka IMHO, saxophone tetap harus ditulis demikian. Sax harus tetap sax, bukan kemudian ditulis menjadi saks ataupun seks dsb.

Ya, kita tidak boleh sax-saxe dan sax karepe dewe.

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

Evolusi Lubang




Lurs, sebelum ada saxophone, alat musik tiup menghadapi kendala berat, yaitu bagaimana membuat alat musik tiup yang mampu bersuara rendah tapi mudah dimainkan. Memang sih, untuk memainkan nada rendah diperlukan sebuah alat yang besar dan panjang. Nah, persoalannya, jari dan jempol yang akan mengoperasikan alat itu langsing adanya, pendek dan tidak bisa melar seenaknya.

Ambil contoh suling bambu yang sering dipakai mengiringi lagu2 dangdut, Kucing Garong, Jablay dsb., itu. Bambu sekerat berlubang enam itu bisa tulat tulit memainkan nada karena lubang kecilnya dibuka dan ditutup pakai jari. Karena letak lubang berdekatan, jari2 kita pun dengan lincah bisa menari-nari di atasnya sambil menghasilkan tangga nada.

Sayangnya, karena keterbatasan, setiap nada dasar berganti, suling pun juga harus diganti. Tak hanya suling, tapi juga clarinet, oboe, bassoon, dsb., merupakan alat musik tiup jaman baheula yang masih berorientasi pada lubang yang sekedarnya. Sekedar ada lubang.

Lantaran berkutat hanya di lubang sempit, problem bagaimana membuat lubang besar tidak terpikirkan. Paling-paling kalau ingin bikin alat yang agak besar, alat itu kemudian dilengkungkan seperti busur sehingga tetap dapat diraih oleh tangan. Pengin yang lebih besar lagi, sudah tak berdaya, sudah apa daya tangan tak sampai.

Ada sih sedikit kemajuan, dengan ditambahkannya lubang serta tangkai-tangkai untuk membuka dan menutup lubang yang berada diluar jangkauan jari. Satu tangkai disiapkan untuk satu lubang tambahan itu. Jempol serta kelingking dilibatkan untuk menanganinya. Nada yang dihasilkan memang bertambah banyak, namun lubang sempit itu masih saja tak terpikirkan untuk dibesarkan.

Sampai suatu saat ketika suling salin rupa menjadi flute. Seseorang telah membuat lubang berjejer dan berjumlah banyak. Lubang itu besar, sampai besarnya jari tidak dapat menutupinya sehingga diperlukan tutup khusus. Nah, kini ujung jari tinggal menekan tutup ini sehingga lubang pun tertutup. Dibuat pula sistem rangkaian yang memungkinkan dua atau tiga tutup bisa menutup sekaligus dengan hanya menekan satu tutup. Sebuah awal yang bagus, meski belum ada juga yang mencoba membesarkan ukuran alat musik tiup itu.

Akhirnya, Adolphe Sax dari Belgia mengatasi kebuntuan itu. Dia membuat alat musik tiup yang gede segede-gedenya, dari bahan kuningan. Alat itu dipatenkan dan diproduksi massal tahun 1846. Julukannya pun diambil dari nama dirinya: SAX-O-PHONE.

Anton Pri/Tina Sax
Sax Mania

Monday, September 15, 2008

Sax & nge-Sax pertama


Saxophone tenor itu seperti sedang tidur di dalam kopernya. Tubuhnya besar, melingkar, persis ular phyton kekenyangan. Deg deg an hati ini kala pertama melihatnya.

Mata ini tak jemu-jemunya memandang. Makin dipandang, e.., makin mempesona. Pucuknya sedikit melengkung, bodynya melurus, lalu melengkung lagi. Bonggolnya melebar seperti bunga sedang mekar. Batangnya dipenuhi pilar dan lubang. Ada juga semacam sulur yang menjulur-julur. Di rongganya terlihat ada bekas sarang laba-laba, juga ada bekas telur cicak, pertanda benda itu lama tak disentuh dan tak diurus. Ah..., kacian!

Sejak punya, saban hari latihan, towat towet towet towet tak henti2. Pas sebulan sudah agak lancar. Meniup tidak lagi ngos-ngosan, do re mi juga sudah paham. Lagu Putri Solo bisa didendangkan, lagu Monalisa pun..., lancir. Malah kemudian berani nekat ikut naik pentas mengiringi penyanyi kondang Emilia Contesa, melantunkan lagu berjudul Bunga Flamboyan. "Senja itu..., sang dara...., keguguran...dst" Keliru dikit memang, tapi gak apa2. Namanya juga baru pemula, baru pertama nge-Sax.
Peristiwa itu terjadi pas acara natalan di kantor, sekian tahun (puluh) silam.

Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

Mula - Awal




AWAL TERPIKAT.
Bocah lanang kelas 6 SD itu berdiri di depan panggung hiburan di keramaian pasar malam Sekatenan. Matanya nyaris tak berkedip, tertuju pada sebuah benda mengkilat yang sedang ditiup oleh seorang anggota pemain band (Albert Sumlang?). Bukan lagu ataupun si peniup yang menarik perhatiannya, tapi alatnya itu lho. Wiiih..., ciamik tenan. Dan sejak saat itu si bocahpun bermimpi....

Dua puluh tahun berlalu, barulah terwujud impian si bocah untuk punya dan memainkan alat musik yang persis kayak cangklong itu.
Ya ya ya....

AWAL PERBURUAN
Mencarinya tidak mudah. Banyak cerita suka dan duka di baliknya. Hampir seluruh toko musik seantero Jakarta disambangi. Tidak disemua toko ada. Hanya beberapa saja yang sedia. Salah satunya sebuah toko musik di sebelah terminal Kampungmelayu.

Di etalasenya jelas terpajang sebuah benda berkilau, berkesan wah.., mewah. Warnanya kuning bukan sembarangan tapi kuning keemasan. Keadaanya masih baru gres, kinyis-kinyis. Tapi sayang seribu sayang, harganya tinggi selangit. Lagipula jangankan dicoba, dipegangpun kagak boleh. Jangan! Ah..., hajinguk tenan. Sontoloyo!

Untunglah ada seorang kawan mengabarkan kalau pakdenya yang sudah berangkat jompo mau menjual alat musik miliknya. "Mending dilego, daripada cuma jadi teken" katanya.

Ee..., akhirnya dapet juga. Saxophone tenor itu kondisinya sudah tidak mulus, model tua, made in Amerika. Dan yang penting..., murah bro!

Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

Sexy, Jazzy, Sember dsb.

Aneka istilah dipakai untuk menggambarkan kayak apa sih suara saxophone itu. Di antaranya ada istilah: bright, dark, edgy, pretty, giant, sexy, jazzy, halus, lembut, tebal, tipis, sember etece. Tapi yang terang suara saxophone itu..., merdu!

Berbagai warna suara saxophone dipengaruhi oleh beberapa faktor, bisa oleh alatnya itu sendiri, oleh mouthpiece, oleh reed, oleh embouschure, bahkan bisa juga karena ruangan tempat dimana saxophone itu dimainkan.

Namun dari antara faktor yang berpengaruh itu ada bagian yang kita masih dapat kendalikan, yaitu pada mouthpiece serta reed. Dengan cara mengotak atik kombinasi antara keduanya, misalnya mp ceper digabung dengan reed tebal atau mp 1/2 ceper dengan reed 1/2 tebal dsb., bisa dihasilkan warna suara yang sedikit berbeda-beda.
Coba saja.

Wis tho, saxophone pancen enak...

Salam dahsyat

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound)

Cari Saxophone..., di mana?

Saxophone pancen keren, berkesan romantis, artistik dan eksklusif. Bener2 kita2 punya selera! Lagian nyaxophone ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan. Ya nggak.., ya nggak...

Yang mungkin bisa bikin kita stres adalah mikirin dimana sih nyarinya? Dimana belinya? Barangnya susah banget didapat, harganya mahal, pak gurunya kagak ada, tukang servisnya kagak kenal, dan seribu satu macam susah2 lainnya. Wis tho, pokoknya sususu...sah deh!

Tapi dulur tak perlu bingun, sutris ataupun frustated, karena di Jakarta ada satu tempat yang spesial mengurusi saxophone dan sebangsanya, flute, clarinet, trumpet dan toet-toet lainnya. Pengin yang baru atau seken, semua ada. Harga miring, kondisi prima dan..., akan diajari gratis, sampai bisa!

Tempat ibu Tina yang berlokasi di belakang Rumah Sakit Pasar Rebo Jakarta Timur itu punya misi ingin mempopulerkan saxophone yang sexy itu ke segenap masyarakat. Penginnya sih mencetak 1000 penggemar dan pemain sexyphone (baca: saxophone) dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan pada gilirannya nanti membentuk klub penggemar saxophone, wadah dimana para sax mania bisa bersenang-senang, hepi-hepi, belajar dan bermain saxophone bersama, saling tukar pikiran dan pengalaman.
Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam hangat,

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound)

SEMUA KEY..., HARUS OKEY!

Lurs (para sedulur), kata sang empu, membuat saxophone itu prosesnya kompleks lho, ada ratusan bagian dan perlu banyak tahapan. Ee..., ternyata bikin lebih sulit ketimbang mainin...
'
Bayangkan, untuk satu komponen yang punya julukan khas, seperti "key" misalnya, dapat terdiri dari beberapa bagian, hinge rod, cup arm, lever, spatula dan spring hook. Kesemuanya harus diukur, digambar, dibentuk, dipatri, dirakit, dipoles. Membuatnya harus benar, tidak boleh salah. Kalau keliru maka musti diulang dari awal lagi. Capek deeeh! Itu baru untuk sebuah key, belum key2 yang lainnya. Ya..., semua key musti en kudu okey.

Untuk tone hole pun perlu proses nan rumit. Diukur, dibentuk, dipatri delele. Itu baru untuk sebuah hole, belum hole2 yang lain. Ya... untuk sebuah hole juga musti en kudu..., hole-ley.

Lha kita ini khan ketiban enaknya tho. Tinggal nyebul, ngemut en hepi-hepi.
Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam,

Anton Pri
(I love saxophone, the way they look and the way they sound)

Manggung...



Bayangkan, empat jam nge-sax (main sax) di panggung lobby dan bar hotel bintang lima. Main bertiga, bareng piano dan bas betot, tanpa penyanyi. Memang sih, main 4 jam tapi tidak nonstop. Ada istirahatnya 3 kali (total istirahat 1 jam).

Ada sekitar 28-30 lagu biasa dibawakan. Setiap lagu dimainkan tiga kali putaran. Putaran pertama, setelah intro, saxophone melantunkan keseluruhan bait lagu, dilanjut oleh piano, mengulang bait satu & dua. Pas refrain saxophone kembali beraksi, diteruskan piano di bait berikutnya. Putaran ke tiga, saxophone menyanyikan bait satu dan dua, refrain oleh piano, ditutup kemudian oleh piano & saxophone bersama-sama. Atau bisa juga dilakukan sebaliknya, piano memainkan seluruh lagu baru kemudian saxophone dst. Lha si pengebas (pemain bass) bertugas menjaga irama dan tempo.

Poro dulur tentu kenal dengan suara saxophone jenis tenor yang gedem, rada ngebas, dalam, berat dan mendesah. Ya itulah sax yang saya tiup..., sax tenor!
Dengan bodynya yang semok serta corongnya yang mengacung, benda itu membuat rasa makin macho aja. Belum lagi style kala kita meniup, bibir nglamut, jemari kiri mencet tombol atas, jari kanan nggrayangin body bawah, wah rasanya seperti lagi meluk sri dinda. Sehingga selesai berlagu, sering saya mengalami rasa kayak..., orgasme! Padahal ada sekian banyak lagu dimainkan, jadinya sekian banyak kali pula orgasmenya. He he... (Tapi ini jenis "I am coming" yang kagak pakai ah uh ah uh lho...).

Dan inilah persembahan beberapa lagu, spesial untuk poro dulur.
Sesi I lagu:
The shadow of your smile, if, smoke get o y e, are you lonesome t n, felling, yesterday, over the rainbow.

Sesi II lagu:
What a wonderful t n, the girl f ipanema, the bridge o t water, the last waltz, love letter i t s, the way we were, misty.

Sesi III
Memory, st on the shore, stranger i t night, vision, and i love u so, the autumn l, la paloma.

Sesi terakhir
Something, the end of t w, besame mucho, he'll have to go, killing me softly, this masquerade, vaya condios.

Silahkan menikmati sembari ngunjuk kopi, tequilla delele.
Wis jan, saxophone pancen enak...
Salam,

Anton Pri
(I love saxophone, the way they look and the way they sound)