SAXOPHONES masa kini (Valentine, Antonio dsb)..., murah, bermutu, enak
ditiup dan merdu.
Bisa dibilang kini saxophone sudah menemukan bentuk standarnya. Artinya
modelnya nyaris seragam antara merek yang satu dengan yang lainnya, tidak
urusan saxophone itu bikinan Eropa, Amerika atau Asia. Model neck, body, bow,
bell, tone hole, key, guard dll., sudah sama. Tidak hanya itu, mutunya juga
bagus. Konstruksinya kokoh, materialnya kuat, finishingnya rapi dan enak
dipakainya. Hal i
ni patut dipercaya. Mengapa?
Mengingat di jaman tehnologi moderen seperti sekarang ini, apa sih yang tidak
bisa dibikin bagus dan sempurna? ‘Tul nggak?
Penerapan tehnologi moderen dalam memproduksi saxophone itu, selain membawa
kepada kesempurnaan pastilah juga berefek terhadap effisiensi. Ongkos produksi
dapat ditekan melalui unsur fixed cost maupun variable cost nya. Dan sebagai
dampak positipnya, kita jugalah yang kemudian kebagian asyik serta enaknya.
Sekarang kita bisa memiliki saxophone baru, bermutu, dengan harga yang
“bersahabat”.
Dan beberapa waktu lalu di Asia, China dan Taiwan, muncul produsen2 alat
musik tiup. Mereka memproduksi alat musik tiup termasuk saxophone. Kemunculan
mereka sungguh saya syukuri, karena sekarang saya bisa “mendapatkan/mendatangkan”
saxophone yang baru, yang berkualitas, yang harganya murah, dan dalam jumlah
yang tak terbatas. Kesemuanya itu mendukung dan memberi harapan besar bagi saya
akan terwujudnya cita2 ingin memasyarakatkan saxophone di Indonesia, ingin
mencetak tidak hanya seribu, berpuluh ribu pemain dan penggemar saxophone.
Memasyarakatkan saxophone di Indonesia itu saya anggap penting. Mengapa?
Karena bermusik itu baik, karena saxophone itu alat musik yang baik, dia sangat
ekspresif, bisa lembut, bisa romantis, bisa menghibur, mungil tidak makan
tempat, irit tidak makan listrik, dsb, dst, dll.
Wis tho, pokoke…, saxophone
agawe rukun