Lokasi Pengunjung Blog

Tuesday, January 13, 2015

RUMAH WINDWOOD TINA


Tentang Rumah Tiup. Artikel ini ditulis oleh mbak Giatri, Majalah Men’s Obsession. Edisi 131/ tahun ke 10/ 2014. Terima kasih untuk semuanya.

Judul: RUMAH WINDWOOD TINA

Kecintaannya pada sang suami, membuat Tina Valentine kerap menghadiahkan alat musik yang digandrungi suaminya, saxophone. Lantaran bentuknya yang eksotis dan suara yang dihasilkan begitu seksi, wanita berambut ikal tersebut akhirnya jatuh hati pada alat musik tiup itu. Beberapa saxophone merek ternama menjadi koleksinya seperti Buffet Crampon (Paris), Yanagisawa (Jepang), Julius Keilwerth (Jerman), hingga Selmer (Paris).
-------------
Tina mengaku, ia sempat bertengkar hebat dengan suaminya karena membeli saxophone. “Tahun 1989, harga saxophone sangat mahal. Kala itu harga tanah disini Rp 5 juta (200 m2) sedangkan saxophone Rp 1,25 juta. Akhirnya dijual, ternyata untungnya Rp 250 ribu setara dengan gaji kita sebulan,” bebernya.

Berangkat dari sanalah keduanya berpikir untuk berburu saxophone kemudian dijual. “Dari keuntungannya saya belikan saxophone, lambat laun jumlahnya kian banyak. Ada beberapa yang kita jual, namun yang bernilai collectable kita simpan,” terangnya.

Mereka pun berburu ke berbagai daerah di Indonesia seperti Yogyakarta, Medan, Surabaya, Jawa Tengah, Bandung hingga Bontang. “ Kita kan pernah dijajah Belanda yang notabene negara kaya, waktu dia meninggalkan tanah air, barangnya ditinggal dan salah satunya adalah saxophone. Oleh karena itu saya dan suami begitu giat menggali dimanapun berada,” ungkap Tina semangat.

Hingga saat ini jumlah koleksi Tina lebih dari 250 buah. Salah satunya adalah merek Selmer lansiran Perancis yang merupakan saxophone profesional dan dianggap sebagai model terbaik yang pernah dibuat di dunia, desainnya juga dianggap sebagai model terbagus yang dibuat oleh pabrikan. “Saya beli di Semarang harganya sekitar Rp 35 juta, tapi kalau sekarang sudah laku hingga Rp 100 juta,” Tina berujar.

Tak hanya mengoleksi, Tina juga bisa merestorasi saxophone yang rusak seperti buatan Amerika yang baru saja dibelinya dari Kalimantan. “ Jadi buka satu-satu. Kita bersihkan dan coba hidupkan.”

Soal perawatan terbilang mudah cukup rutin dibersihkan menggunakan lap seminggu sekali. Tapi kalau saxophone-nya usang dan warnanya sudah kehijauan, untuk mengembalikan warnya seperti sedia kala harus dibersihkan menggunakan cairan nitrat. “Saya sendiri yang turun tangan karena kalau orang lain belum tentu bisa caranya, resikonya besar kalau kena kulit bisa melepuh,” jelasnya.

Kecintaannya pada saxophone pada 1998, Tina dan sang suami membidani Rumah Tiup di Jl. H. Taiman Barat I No 71 RT 2/RW 2 Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur (Belakang Rumah Sakit Pasar Rebo). Tak hanya saxophone, Rumah Tiup juga mewadahi para pecinta woodwind lainnya, seperti klarinet, flute hingga sausaphone.

Selain di Pasar Rebo, komunitas Rumah Tiup juga terbentuk di Cibubur dan Yogyakarta. Di cabang Cibubur dikelola oleh anak sulung dari pasangan Tina dan Anton, Didit. Sedangkan cabang Jogja ditangani oleh si bungsu, Ardhaseta Rismayudha. Sungguh merupakan sebuah usaha yang turun temurun digeluti oleh keluarga ini.

Hingga 2014 ini, setidaknya tercata ada sekitar 2.400 anggota komunitas Rumah Tiup yang belajar dari Tina dan Anton. Mereka berasal dari berbagai kalangan: pelajar, mahasiswa, tentara, polisi, pengusaha, dan karyawan. “Bagi anggota komunitas yang berada di luar Jakarta, kami distribusikan materi lagu melalui internet,” ujar Tina.

Komunitas Rumah Tiup memiliki agenda rutin berkumpul pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Selain belajar, mereka juga berbagi kesulitan atau lagu baru.

Rumah Tiup juga menjual alat musik woodwind, diantaranya saxophone, klarinet, flute dan beberapa jenis lainnya. Harga yang ditawarkan untuk alat musik ini sangat menarik. Saxophone yang dulu terhitung mahal, di Rumah Tiup Anda bisa mendapatkan saxophone mulai dari, soprano atau baby sax, alto, tenor, bariton saxophone seharga mulai dari Rp 2,5 juta untuk bekas dan Rp 5 – 8 juta untuk yang baru.

“Tadinya kita jual yang seken, tapi lambat laun yang seken itu berkurang. Kita cari produk lain yang murah meriah, kualitas daan suara bagus. Saya dapat produk merek Maxtone. Kemudian dua tahun ini saya dapet pinjaman dari Bank sehingga saya bisa beli atau import sendiri dari Taiwan dengan nama saya Valentine dan suami saya Antonio,” jawabnya.

Tak hanya itu, bila membeli disini dapat garansi setahun dan diajari gratis sampai bisa! Tina menjamin dalam sebulan bisa menguasai lagu. “Satu bulan itu merupakan pelajaran dasar. Selanjutnya boleh diteruskan kalau mau belajar lagi. Atau kalau mereka merasa sudah cukup, mereka akan belajar sendiri, otodidak,” katanya.

Menurutnya, belajar Saxophone, sebenarnya tidak sulit. Tidak sesulit gitar. Setidaknya, ada tiga tahap untuk mempelajari Saxophone. Pertama dan yang paling dasar adalah belajar membunyikan Saxophone. Posisi dan ketepatan bibir di ujung alat tiup akan menentukan apakah saxophone bisa bunyi atau tidak. Tanpa itu, Saxophone akan sulit berbunyi dan pelajaran selanjutnya akan sulit diteruskan.
Kedua, setelah saxophone bisa berbunyi, tahap yang harus dilalui adalah berlatih membidik nada atau solmisasi melaui pergerakan jari. Biasanya, pemula diajari solmisasi pada nada dasar C, lalu beralih , ke nada dasar lainnya. Dalam empat kali pertemuan, seorang pemula biasanya sudah bisa dengan lancar berpindah ke nada dasar diluar C. Ketiga, belajar beberapa lagu sederhana.

“Kalau kita mengajarinya secara feeling. Jadi kita nggak ngasih not balok seperti di sekolah musik. Kita pakai not angka. Not angka itu khan lebih mudah. Do bunyi do, re bunyi re, sehingga nanti kalau sudah dibiasakan, dia denger lagu di TV akan bisa ngikutin,” paparnya. Kedepan Tina berobsesi ingin membuat pertunjukan musik yang bisa memecahkan rekor MURI yakni 1.000 pemain saxophone jebolan Rumah Tiup bermain dalam satu panggung. “ Memang tidak mudah untuk mewujudkan hal itu karena harus mengumpulkan anak-anaknya, latihan bersama, dan terpenting adalah mencari sponsor yang mau merangkul kita,” ungkapnya.

TOMBOL KELINGKING...



Jari kelingking..., dalam keseharian perannya sangat kecil, paling-paling cuma untuk “ngupil”. Tapi dalam bermain saxophone, justru jari kelingking (tangan kiri) mendapat tugas yang paling banyak dibanding jari lainnya, yaitu untuk menekan/mengoperasikan tombol nada: Gis, Cis, B rendah dan Bes rendah. Tombol2 nada tersebut butuh tekanan jari yang lebih kuat dibanding tombol nada lainnya, padahal kelingking adalah jari yang paling kecil dan lemah. 

Oleh karena itu tombol2 yang dioperasikan oleh jari kelingking mendapat perhatian yang serius dari para desainernya, agar mudah dan enak dimainkan. Beraneka model/disain tombol tersebut kemudian muncul pada aneka merek saxophone di masa lalu, seperti nampak dalam gambar ini...

Menarik khan...?!

Wednesday, October 8, 2014

LIONTIN...

Kalung biasanya dipakai melingkar di leher, dan liontinnya seakan melekat di dada. Nah, bandul kalung model tombol saxophone ini bagus juga kalau dipakai, agar si saxophone selalu ada di dada, selalu dekat di hati...
.
EMANG KEREN...


Setiap pelanggan yang datang ke Rumah Tiup dan sedang menimang-nimang saxophone selalu aku tanya: "Kenapa saxophone itu keren?" Dan sebelum mereka menjawab aku bilang: "Saxophone itu keren karena kamu yang sedang pegang..., juga keren!".... (jurus provokasi..., bikin klepek2...)

Thursday, September 25, 2014

Nyaxophone (main saxophone) sambil bersepeda nampaknya kagak mungkin. Tapi ternyata mungkin saja..., caranya lihat sendiri gambarnya. (Gbr dari Google Image)

Tuesday, September 23, 2014

 Perlu ditekuk...


Saking panjangnya, bass clarinet ini perlu ditekuk bagian leher dan corongnya agar tidak klowor-klowor kedodoran. Makin panjang batang, suaranya makin nge-bas..., bas bas bassss....

(Gambar: dari Google Image)

Material saxophone

Material saxophone bisa kuningan, kayu ataupun plastik transparan seperti dalam gambar ini.. Katanya sih suara yang dihasilkan sama saja...

Lha kalau suara sama, meskipun material berbeda, yang penting kepadatannya cukup, lalu apa kira2 yang menjadi pertimbangan Adolphe Sax sehingga beliau memilih bahan kuningan untuk saxophone, alat musik ciptaannya itu?

Boleh jadi pertimbangan utamanya adalah karena bahan kuningan mudah dibentuk, cukup awet, tidak mudah pecah ataupun patah dan kalau rusak, penyok atau copot patriannya gampang diperbaiki...

Begitulah kira2....

Naked Sax...

Naked Sax...

Beginilah rupa saxophone saat "telanjang". Terlihat bodinya yang menggembung dan bolong-bolong...

SAXOPHONES masa kini



SAXOPHONES masa kini (Valentine, Antonio dsb)..., murah, bermutu, enak ditiup dan merdu.

Bisa dibilang kini saxophone sudah menemukan bentuk standarnya. Artinya modelnya nyaris seragam antara merek yang satu dengan yang lainnya, tidak urusan saxophone itu bikinan Eropa, Amerika atau Asia. Model neck, body, bow, bell, tone hole, key, guard dll., sudah sama. Tidak hanya itu, mutunya juga bagus. Konstruksinya kokoh, materialnya kuat, finishingnya rapi dan enak dipakainya. Hal ini patut dipercaya. Mengapa? Mengingat di jaman tehnologi moderen seperti sekarang ini, apa sih yang tidak bisa dibikin bagus dan sempurna? ‘Tul nggak?

Penerapan tehnologi moderen dalam memproduksi saxophone itu, selain membawa kepada kesempurnaan pastilah juga berefek terhadap effisiensi. Ongkos produksi dapat ditekan melalui unsur fixed cost maupun variable cost nya. Dan sebagai dampak positipnya, kita jugalah yang kemudian kebagian asyik serta enaknya. Sekarang kita bisa memiliki saxophone baru, bermutu, dengan harga yang “bersahabat”.

Dan beberapa waktu lalu di Asia, China dan Taiwan, muncul produsen2 alat musik tiup. Mereka memproduksi alat musik tiup termasuk saxophone. Kemunculan mereka sungguh saya syukuri, karena sekarang saya bisa “mendapatkan/mendatangkan” saxophone yang baru, yang berkualitas, yang harganya murah, dan dalam jumlah yang tak terbatas. Kesemuanya itu mendukung dan memberi harapan besar bagi saya akan terwujudnya cita2 ingin memasyarakatkan saxophone di Indonesia, ingin mencetak tidak hanya seribu, berpuluh ribu pemain dan penggemar saxophone.

Memasyarakatkan saxophone di Indonesia itu saya anggap penting. Mengapa? Karena bermusik itu baik, karena saxophone itu alat musik yang baik, dia sangat ekspresif, bisa lembut, bisa romantis, bisa menghibur, mungil tidak makan tempat, irit tidak makan listrik, dsb, dst, dll.

Wis tho, pokoke…, saxophone agawe rukun

Friday, September 12, 2014

Dari Bass Clarinet ke Saxophone...

Begitu saxophone besar berhasil dibuat oleh Adolphe Sax, segera ukuran yang lebih besar dan yang lebih kecil dibuatnya juga. Dan meskipun berbeda ukuran, tapi cara memainkannya sama saja. Ukuran besar dan kecil membedakan wilayah nada yang dihasilkan, nge-bas atau melengking. Ada aneka jenis saxophone, dari yang kecil, sopran, kemudian alto, tenor dan yang besar bariton. Lebih gede lagi, bass.


Wis ngono wae...

Kisah dibalik penemuan Saxophone

Mana yang lebih indah suaranya : klarinet kuningan atau klarinet kayu? Tentu banyak diantara kita yang mengira bahwa klarinet kuningan lah jang lebih unggul. Tetapi tidak demikian pendapat Adolphe Sax pada 170 tahun silam.

 “Pada alat musik-tiup tinggi rendahnya nada ditentukan oleh panjangnya kolom udara yang bergetar dalam bejana atau tabung instrumen itu. Bahan darimana tabung itu dibuat samasekali tidak mempengaruhi nada suara”. Begitulah asas pertama yang mendasari penemuan Sax. Suatu asas jang memancing ketidakpercayaan banyak orang.

Untuk membuktikan thesisnya itu ia membangun sebuah klarinet kuningan. Suaranya samasekali tidak berbeda dari klarinet kayu jang biasa digunakan waktu itu. Jadi bahan dasar dari tabung itu tidak menjadi soal, asal ukuran2nya sama. Selain itu dengan percobaan ini ia juga membuktikan bahwa peranan bahan pada alat tiup tidak sama dengan pada instrumen gesek. Pada biola misalnya, rongga badannya merupakan basis suara atau ruang resonansi yang memperbesar getaran tali2nya, sementara pada alat tiup bahan dasar tidak mempengaruhi warna suara.

Pertimbangan2 ini membawa Adolphe Sax kepada asas yang kedua. “Supaya kolom udara dalam tabung itu bergetar dengan bebas, maka pada instrumen tiup tabung itu semakin mendekati ujung haruslah semakin besar. Demikian juga mengenai lubang2 nadanya.

Kalau flute dan klarinet dimana2 pada tubuhnya sama besar, maka pada penampang tabung saxofon, pada bagian mulut hanya sebesar kurang lebih 2 milimeter dan kearah corong makin membesar hingga 10 kali lipat. Ini memberikan bentuk yang khas: bodi yang mengerucut, makin ke ujung makin menggembung. Tidak hanya itu, bentuk saxophone yang mengerucut dan juga bahan dasarnya yang kuningan membuat saxophone gampang dimainkan serta gampang dibuat dalam aneka ukuran, karena bahan kuningan sangat mudah dibentuk dan ditekuk-tekuk...

Adolphe Sax berumur 28 tahun ketika ia menemukan alat musik saxophone. Dan karena nama Saxophone itu diambil dari nama orang, maka menurut saya tidak bisa kemudian diterjemahkan dan ditulis sebagai saksopon..., harus Saxophone atau Saxofon atau Saxopon.

Wis ngono wae....