.000 penggemar dan pemain saxophone baru dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pada gilirannya nanti akan membentuk klub penggemar dan pemain saxophone, wadah para anggota untuk belajar dan bertukar pengalaman.
Lokasi Pengunjung Blog
Monday, April 16, 2018
Belajar saxophone, yuk...
Melihat sosoknya, sepertinya susah untuk dimainkan. Berat dan rumit, serta butuh napas yang panjang. Tapi kesan pertama sering menipu. Bermain saxophone ternyata mudah dan bisa dilakukan sambil cengar-cengir.
Meski termasuk keluarga alat musik tiup kayu, tapi jarang dijumpai saxophone yang terbuat dari kayu. Saxophone dibuat dari kuningan mengingat sifatnya yang mudah dibentuk. Ada banyak macam saxophone, ada yang lurus seperti yang ditiup Kenny G., ada pula yang melengkung kayak yang dimainkan Dave Koz atau almarhum Embong Rahardjo.
Cara memainkan alat ini sederhana saja, modalnya juga cuma do-re-mi. Makanya, dapat dikatakan saxophone lebih mudah dipelajari dan dimainkan dibandingkan dengan alat musik tiup lainnya macam flute, oboe, clarinet, atau fagot.
Aslinya, suara saxophone itu halus dan lembut, sesuai dengan orkestra zaman itu. Namun, berhubung dalam perkembangannya dipakai sebagai pengiring musik dansa yang ingar bingar, mau tak mau saxophone harus ikut berteriak juga agar bisa didengar. Untuk itu lalu dilakukan modifikasi dengan membuat mouthpiece, sumber bunyi pada saxophone, menjadi lebih ramping dan lancip. Hasilnya, suaranya menjadi lebih keras, lebih wah tidak sekedar weh.
Dalam perkembangannya, saxophone kemudian menjadi alat musik utama pada musik jazz. Tokoh-tokoh yang berkecimpung di situ bisa disebut misalnya John Coltrane, Charlie Parker, dan Steve Lacey. Sekarang alat musik tiup ini sudah menjadi bagian dari hampir setiap musik, mulai dari pop sampai dangdut.
Sambil nyengir, oke saja
Berbeda dengan tuts piano yang dapat menjangkau banyak nada, mulai dari do paling rendah hingga do paling tinggi alias beroktaf-oktaf, saxophone hanya mampu menjelajah beberapa oktaf. Makanya, ia pun dibuat dalam berbagai ukuran demi menghasilkan nada selengkap piano. Jadilah saxophone ukuran S, M, L, XL, double X, dan bahkan triple X. Pokoknya, mirip ukuran baju. Namun, pembagiannya bukan seperti itu, lebih merujuk ke jenis suara.
Wilayah nada tinggi diwakili saxophone mini, sedangkan untuk nada rendah menjadi urusan saxophone berukuran panjang dan besar. Total semua macam saxophone ada 14. Semuanya - kalau mau - dapat dimainkan bersama, ada yang kebagian suara sopran, alto, tenor, bariton, bas, maupun kontra bas.
Dari 14 macam itu, yang sering santer disebut adalah saxophone sopran, alto, dan tenor. Yang sopran bentuknya lurus seperti yang dipakai Kenny G. Sedangkan golongan alto bentuknya sedikit melengkung seperti huruf "J". Jenis ini biasa ditiup oleh Dave Koz. Di atas alto ada saxophone tenor, dan biasa disebut saxophone jazz. Yang lebih besar lagi, saxophone bariton. Saking berat dan besarnya, bagian bow atau bell-nya jadi sering rusak.
Sebelum kebingungan dengan istilah di seputar saxophone, ada baiknya kita telanjangi dulu "bodi" saxophone yang seksi itu. Bentuknya mengerucut mirip belalai gajah. Ukurannya mulai dari 1,5 m sampai lebih dari 5 m. Berhubung besar dan panjang, supaya enak dipakai dan tidak kedodoran, maka perlu diringkas. Bagian ujung dan pangkalnya ditekuk sehingga hasilnya mirip cangklong, pipa untuk merokok.
Di sekujur tubuhnya banyak "bopeng". Lho, tidak seksi lagi dong? Ya, mau apalagi, sebab tanpa "bopeng-bopeng" itu saxophone tidak bisa bunyi. "Bopeng" yang berupa lubang menganga itu dipasangi tutup yang bisa dibuka-tutup. Tutup-tutup lubang itu ada yang dirangkai sehingga dapat menutup bersamaan.
Anatomi saxophone dapat disebut mulai dari atas: mouthpiece yang diemut sewaktu memainkannya, neck tempat memasang mouthpiece, main body tempat lubang-lubang tadi berada, bow yang berbentuk mirip huruf "U", dan bell yang mirip tabung dengan ujung kayak corong. Pada main body sebelum bow ada kait terbuat dari metal atau plastik tempat ngasonya jempol sehingga diberi nama thumbrest. Beberapa senti di atas thumbrest ada strap ring, tempat cantelan strap neck.
Seperti mimi dan mintuno, begitulah mouthpiece dan reed. Saxophone berbunyi hanya jika mouthpiece ditiup. Mouthpiece ini ceper, mirip paruh bebek cerewet, Donal. Bahannya bisa kayu, metal, atau ebonit. Sedang reed terbuat dari bahan rotan yang diiris tipis, ditempelkan di sisi bawah mouthpiece dan diikat kencang dengan ligature. Besar kecil mouthpiece mengikuti ukuran saxophone. Jika kecil, kita masih bisa meniupnya di sudut bibir sehingga masih dapat bersaxophone sambil nyengir. Kalau saxophone nya gede, mouthpiecenya bisa segemuk pisang ambon. Ampun dehl
DITIUP, JANGAN DIEMUT
Tidak seperti yang terlihat, ternyata nyaxophone (main saxophone) cukup mudah. Beda dengan alatnya yang njlimet dan penuh tombol. Benda ini kalau sudah dipegang seolah-olah lekat di tangan, sangat melekat. Kalau sudah begitu, saxophone pun nurut saja. Mau ditiup lirih dia lirih dihembus keras dia lepas suaranya. Tidak ditiup, ya diam saja.
Saxophone dapat pula menjadi penutup bagi mereka yang memiliki suara - maaf - tidak meng-"Indonesian Idol" atau meng-"AFI". Dengan saxophone kita dapat bernyanyi dengan penuh gaya tanpa dituntut untuk keluar suara. Mau gaya ngebor, ngecor, ataupun nyosor, terserah saja.
Karena hanya bermodalkan do-re-mi, maka dari mendengar lagu di teve saja kita sudah dapat menirukannya dengan persis plek. Dengan meniru saja sudah bisa, apalagi kalau paham not angka. Mahir dahl Makanya, bagi yang buta not balok tak perlu minder. Itu bukan halangan buat meniup saxophone dengan benar.
Tak perlu gemetar ataupun gentar memeluk saxophone. Pegang saja bodinya, tangan kiri di sebelah atas, tangan kanan di sebelah bawah. Kedua jempol dikandangkan saja di thumbrest, sedangkan jari lainnya di atas tombol yang sudah disiapkan.
Setelah semua jari ada di tempatnya, mulailah tekan tombol key. Tekan satu-satu mulai telunjuk kiri, berikutnya jari tengah, dan jari manis. Lanjutkan dengan tangan kanan, dari telunjuk dan berakhir di kelingking. Sekarang lepaskan tekanan satu per satu mulai dari bawah ke atas, bolak-balik. Tekan, lepas, tekan, lepas, dan seterusnya. Tuh, ... sudah bisa 'kan?
Saking mudahnya, kita bisa berpantomim dulu dengan membayangkan memegang saxophone kalau sudah kebelet main tapi belum punya. Lalu lantunkan lagu Song Bird atau Havana.
Kalau saxophone sudah di tangan, pelajaran pertama adalah meniup mouthpiece. Tut-tuuuttt ..., begitu kira-kira cara meniupnya. Agar bisa bunyi, mouthpiece harus ditiup, jangan cuma diemut. Posisinya juga jangan sampai terbalik, sebab bibir akan terasa geli. Yang lihat pun ikut-ikutan geli.
Selamat bersaxophone!
DIAJARI GRATIS
Yang mungkin bisa bikin stres justru di mana mendapatkan saxophone. Barangnya susah ditemukan, harganya mahal, gurunya langka, tukang reparasinya tidak kenal, dan segudang susah lainnya. Namun, jangan putus asa. Di Jakarta ada tempat yang khusus mengurusi dan menjadi gudangnya saxophone maupun macam-macam alat musik tiup lainnya. Semua jenis dan semua merek ada, baru maupun bekas. Harganya miring, kondisinya prima, dan terkadang dapat dicicil. Hebatnya lagi, Anda akan diajari sampai bisa dengan biaya nol rupiah!
Tempat yang berlokasi di kawasan Pasar Rebo itu memiliki misi memasyarakatkan saxophone dan menyaxophone kan masyarakat. Targetnya, mencetak 10
.000 penggemar dan pemain saxophone baru dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pada gilirannya nanti akan membentuk klub penggemar dan pemain saxophone, wadah para anggota untuk belajar dan bertukar pengalaman.
.000 penggemar dan pemain saxophone baru dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pada gilirannya nanti akan membentuk klub penggemar dan pemain saxophone, wadah para anggota untuk belajar dan bertukar pengalaman.
Tuesday, March 20, 2018
SORGA KECIL...
Wednesday, April 26, 2017
MODEL BEDA, GUNA SAMA...
Monday, April 10, 2017
GRUP RUMAH TIUP
Ini potret sebagian anggota grup keluarga besar Rumah Tiup bersama bu Tina Saxophone I dan mas Didit Saxophone. Mereka berkesempatan tampil disuatu acara. Grup keluarga besar Rumah Tiup ini diasuh oleh mas Didit Saxophone, serta menjadi cikal bakal terwujudnya impian menghadirkan 1.000 pemain saxophone, anggota keluarga besar Rumah Tiup, yang bermain bareng. Semua ini demi tujuan memasyarakatkan saxophone di Indonesia dan berbagi suka cita dengan bermain saxophone...
Yuk, ikutan!
Syaratnya, beli saxophone di Rumah Tiup, dan nanti akan diajari gratis sampai bisa. Pembeli akan otomatis menjadi anggota keluarga besar Rumah Tiup.
AJAK TEMAN-TEMANMU...
Ajak 4 atau 5 orang temanmu, teman sekolah, teman kantor, teman sekampung dsb. Ya, ajak teman2 mu untuk bersama-sama belajar bermain saxophone. Dan mas Didit Saxophone akan segera membimbing, mengajari dan membawamu "terbang" sebagai grup saxophone Rumah Tiup, yang siap tampil di lingkunganmu.
Mau...?
KOLEKSI TERBARU - RUMAH TIUP
Koleksi terbaru Rumah Tiup.
Ini potret 2 buah sax tenor merek SML Rev D. Salah satunya baru saja tiba di Rumah Tiup, dan menjadi koleksi untuk menemani satu yang terdahulu. Sax ini dikoleksi bukan karena ada apa2nya, tapi semata-mata karena saya suka. Ya, begitu lihat..., langsung terpikat.Mau ikut bergembira.... silahkan lihat dan silahkan coba
PASTI BISA..., GRATIS!
MUSEUM SAXOPHONE - RUMAH TIUP
MULA-MULA.... LALU JADI DEH.
APALAGI KAMU....
Tuesday, December 6, 2016
Meniup Rasa Bersukacita
”Do… Re… Mi… Sol… La…,” demikian instruksi dari mulut Anton Prihardianto sambil menekan-nekan tuts alat musik kibor di satu sisi pusat belanja Cilandak Town Square, Jakarta, Sabtu (3/12) pagi. Sang penerima instruksi adalah Indra G Windiaz yang tengah memainkan lagu ”Can’t Help Falling in Love” besutan Elvis Presley dengan tiupan saksofon.
Beberapa kali Indra, yang akrab dipanggil Jibal, terlihat kikuk sekalipun sebelumnya ia memainkan kibor mengiringi Anton bermain saksofon. Tak jauh dari mereka berdua tampak Valentina Sri Yuniati yang adalah istri Anton, dan selama beberapa tahun terakhir mengasuh Komunitas Rumah Tiup.
Sejumlah saksofon ditaruh mengelilingi meja kecil tempat mereka tampil dalam ajang Social Market Community, yang hari itu dihadiri juga beberapa komunitas lain. ”Kalau saya bergabung, karena ini adalah klangenan,” ujar Jibal.
Pegiat teater dan sastra itu menceritakan alasan mereka bergabung bersama Rumah Tiup. Sebagian membawanya kembali pada memori saat masih aktif bermain band, bertahun-tahun lalu.
Sebagian lagi, seperti mengingatkan dirinya tatkala bertemu sejumlah anggota lain yang lebih muda. Jibal yang kini mantap menggunakan saksofon jenis alto, setelah sebelumnya menjajal jenis tenor dan sopran, merasakan berkah jejaring sosial sebagai hal terkuat yang dirasakan bersama komunitas tersebut.
Salah satunya menyusul praktik saling berbagi ilmu atau teknik dan mentoring oleh sejumlah anggota senior. Jibal menyebutkan, sejumlah senior mengayomi anggota lain dengan turut memberikan solusi teknis kasus per kasus sesuai dengan tantangan yang dihadapi setiap individu dalam memainkan saksofon.
Untuk melakukan itu, sejumlah anggota biasanya berkumpul di kediaman Anton dan Valentina yang kerap disapa Tina dibilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di rumah yang dipenuhi sejumlah alat musik tiup, termasuk klarinet, flute, dan sebagainya itu, para anggota biasanya berkumpul sejak Jumat hingga Minggu.
Mereka terdiri dari berbagai macam latar belakang, seperti pegawai kantoran, pekerja pelabuhan, ataupun seniman. Yang baru bergabung beberapa bulan terakhir, misalnya, Suparno, tukang bangunan yang kini dipekerjakan Tina dan Anton sebagai teknisi. Tugas Suparno merawat dan memperbaiki kerusakan beragam saksofon.
Sebagian di antara tugasnya membenahi kerusakan klep-klep pada alat musik tersebut dari kebocoran udara. Salah satu teknik yang dikembangkannya ialah memasukkan bola lampu ke dalam rongga saksofon untuk mengecek apakah ada sinar yang keluar sebagai penanda kebocoran. ”Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bongkar pasang,” ujar Suparno.
Terkadang, pertemuan itu diisi dengan reuni kecil-kecilan di antara sebagian anggotanya. Ini terjadi misalnya ketika ada seorang anggota yang kembali datang berkumpul setelah tidak terdengar kabar beritanya bertahun-tahun. ”Dulu datang saat bujangan, sekarang datang lagi sudah membawa anak,” seloroh Anton perihal sebagian di antara fragmen nostalgia itu.
Tina mencatat, tak kurang 3.800 orang telah tertaut dalam jejaring komunitas itu. Catatan ini sebagian menyusul ingatannya tentang jumlah pembeli saksofon dalam skema bisnis yang dijalankan.
Pasangan itu mengawalinya sebagai kolektor beragam jenis dan merek saksofon. Setelah sekali dua kali mencicipi manisnya keuntungan berdagang saksofon, pasangan ini pun mantap menekuni bisnis.
Ini ditambah dengan kondisi perekonomian yang relatif surut menyusul krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Anton meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan kosmetik untuk fokus menekuni hobinya sejak puluhan tahun lalu dalam bermain saksofon.
Selain berjualan saksofon, mereka juga menyediakan jasa reparasi dan penjualan suku cadang. Namun, hal menarik yang dilakukan Anton adalah mengajari pembeli saksofon itu sampai mereka bisa menggunakan alat musik tersebut. ”Cukup empat kali pertemuan, mereka sudah bisa demo (main) saksofon,” kata Anton.
Dari sinilah cikal-bakal Komunitas Rumah Tiup bermula setelah sebagian pembeli dan calon pembeli selalu datang lagi untuk mengasah teknik dan kemampuan bermusik mereka. Adapun nama Rumah Tiup, ujar Tina, diperoleh dari celotehan sejumlah pelajar yang kerap menunjuk tempat Tina dan Anton berdagang saksofon tatkala kebutuhan pada alat-alat musik tiup berharga murah itu sedang meluap. ”Nama (Rumah Tiup) sudah kami patenkan,” kata Tina ihwal penahbisan nama pada 2004.
Belakangan, kedua anak mereka, yakni Adhesmiera Primayudha dan Ardhaseta Rismayudha, juga menekuni bisnis serupa. Mereka menjalankan usaha di bilangan Cibubur, Jakarta Timur dan Yogyakarta.
Laba dan sukacita
Pasangan Anton dan Tina memulai jejak mereka di Jakarta sejak 1985. Tina, sebelum mantap melakoni bisnis jual beli saksofon, beberapa kali berpindah-pindah tempat kerja. Hingga pada suatu hari ia menyadari besarnya potensi beroleh laba dari berdagang saksofon. Namun, hal itu mesti diawali dengan kekesalan tatkala Anton memutuskan membeli saksofon merek Selmer buatan Perancis yang mahal, sekitar Rp 1,25 juta.
”Sebagai bandingan, waktu itu harga sebidang tanah 250 meter persegi di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, saya tebus dengan Rp 5 juta,” ujar Tina.
Tina kemudian menjual saksofon itu, dan betapa kagetnya ia saat saksofon itu laku senilai Rp 1,5 juta. Pada saat itu, laba Rp 250.000 setara dengan gaji Tina selama dua bulan di kantor tempatnya bekerja.
Menyadari bisnis itu menguntungkan, Tina membeli lagi dua saksofon dari hasil penjualan saksofon sebelumnya. Dari dua buah saksofon itu, lantas menghasilkan empat saksofon, lalu menghasilkan delapan saksofon, dan seterusnya. ”Saat itu, setelah dapat delapan saksofon, saya suruh bapak pilih satu saksofon. Akhirnya, ya sudah, saya jualan saksofon,” ujar Tina.
Tahun 2003, mereka memproduksi saksofon sendiri dengan merek Valentine dengan pabrik di Taiwan. Menyusul tahun 2007, merek Antonio diproduksi. Akan tetapi, kedua merek tersebut menghadapi pula serangan pembajakan hak cipta. ”Banyak dipalsukan,” ujar Tina.
Mereka terus bertahan karena sebagaimana disebutkan Anton, mereka membawa pula misi untuk mengajak bersukacita.
Lihat Video Terkait ”Komunitas Rumah Tiup” di kompasprint.com/vod/rmhtiup
Subscribe to:
Posts (Atom)








