Lokasi Pengunjung Blog

Tuesday, October 14, 2008

Anton...




Anton..., dulu dan kemarin dulu.
Di saat "dulu" itulah saxophone pertama dimiliki...

Tina ...








Potret...., sekian puluh tahun lalu! (Dan kini, ketika mas Didiet dan mas Risma sudah married).

Hantu Made In China... (dari Papyrus majalah elektronik).

Tadinya saya kurang suka nonton film mandarin. Tapi gara2 mantu saya putri giok, hobi nyetel film china, saya ketularan demen juga jadinya.

Yang paling ger2an itu kalau ada adegan hantunya. Bayangkan, sosok hantu made in China itu khas. Wajahnya pucat pasi dan tangannya kaku njepaplang ke depan. Jalannya lonjak2 persis seperti orang lagi balap karung pas acara 17 an di kampung.

Hantu itu akan terus lonjak2 seakan sedang mengejar lumpia Semarang yang digenggamnya. (Tangan hantu itu begitu kaku sehingga tak bisa ditekuk untuk sekedar memasukkan lumpia ke mulutnya). Dia baru akan berhenti bergerak kalau jidatnya ditempeli ampau nggo mban. (Kurang dari itu dia akan tetap jingkrak2 sembari geleng2). Wis tho..., pokoknya kocak dah!

Lho, hantu kok bukannya medeni tapi malah menggelikan?
Piye jal?

Papilon.

(Anda tertarik dengan kisah2 yang lain? Silahkan klik LINK TEMAN: PAPYRUS majalah elektronik).

Pekik... (cerita dari Papyrus, majalah elektronik)

Yang namanya pekik, haruslah diteriakkan dengan gegap gempita, dengan semangat 45, entah itu pekik merdeka atau pekik yang lain. Jadi bukan diucapkan dengan lemah gemulai seperti: merdeka ya dik, misi tante, merdeka ya, atau ihhh..., merdeka deh ike.

Namun apa boleh buat, situasi memang sudah berubah. Pekik merdeka sudah tak lagi cocok dengan keadaan. Pekik merdeka tak lagi lantang terdengar. Ya..., setelah merdeka lalu ngapa? Mungkin pertanyaan yang tak berjawab itu yang bikin kita lemes.

Piye jal?

Papilon.

http://members7.boardhost.com/Rayman/

....., Piye Jal?

Say Yes to..., Sax!

Say No to..., Sax?

Upps!!!....

Monday, October 13, 2008

Brasswind..., apaan sih?

Trumpet, trombone, french horn dan sebangsanya dikenal dengan sebutan keluarga alat musik tiup Brasswind. Meskipun di awal sejarahnya benda2 itu sama sekali tidak terbuat dari brass atau kuningan melainkan dari tanduk atau dari batang kayu berongga atau sekedar rumah keong. Tapi di tengah perjalanan sejarah, alat2 musik tiup itu kemudian diproduksi secara luas dari bahan metal.

Ini tentu ada pertimbangannya. Bahan metal kuningan lebih gampang dibentuk, digelung ataupun ditekuk-tekuk dibanding bahan lain seperti kayu dsb. Padahal alat tiup kayak trumpet itu sungguh memerlukan batang berongga yang beraneka ukuran panjang untuk dapat menghasilkan nada2 tinggi dan rendah (disamping tentunya pengaruh ketat longgarnya tekanan pada piranti tiupnya, guna mengatur nada). Semakin panjang batang dan semakin longgar tiupan, semakin rendahlah nada yang dihasilkan, dan sebaliknya. Begitu kira-kira rumusnya. Nah, inilah yang menyebabkan trumpet dan gengnya memperoleh sebutan sebagai alat musik tiup brasswind.

Sekarang sudah jelas ya bagi kita, apa perbedaan antara brasswind dengan woodwind. Begitu?

Aneka Piranti Tiup

Perkara niup, ngemut, nyebul ataupun nglamut..., sudah tidak asing lagi bagi kita orang. Dari sejak bayek pun kita biasa begitu. Begitu lahir cenger, mulut kita langsung klamut-klamut..., nyusu. Lepas dari susu, jempol kemudian jadi sasaran, dan kitapun...,ngemut jempol. (Makanya jempol kini jadi paling gendut di antara jari lainnya gara2 diemut melulu. He he...).

Ya, membunyikan sesuatu dengan mulut sudah biasa kita lakukan sedari kecil. Rumah keong ditiup. Daun pisang digulung, lalu ditiup. Merang, batang padi dipotong, lalu ditiup. Bahkan sedotan limunpun iseng2 juga kita tiup dan e..., berbunyi. Semua "permainan" tiup2 an itu menimbulkan bunyi2an yang ternyata sangat menyenangkan hati.

Dalam perkembangannya, piranti tiup sumber bunyi itu dicoba disambung dengan batang berongga, panjang maupun pendek. Atau juga disambung dengan batang berongga dan berlubang kecil disekujurnya. Dengan adanya batang sambungan itu, berbagai nadapun dapat dihasilkan oleh piranti tiup itu. Jadilah kemudian yang semula sekedar mainan anak2 iseng itu menjadi aneka alat musik tiup seperti yang kita kenal sekarang.

Berbagai model piranti tiup sebagai sumber suara dapat kita sebut, di antaranya: piranti tiup bermodel corong kecil, kayak yang ada pada brassswind, trumpet, trombone dsb. Atau piranti bermodel buluh (reed), seperti pada saxophone, clarinet, oboe dan bassoon, serta model piranti tiup berupa lubang kecil, seperti suling, flute delele. Gitu...

Flute..., lho kok woodwind juga?



Suling bambu yang terdengar tulalit-tulalit merdu saat mengiringi Dewi Persik menyanyi lagu ndangdut itu, atau juga flute metal yang suaranya "sruntal-sruntul" meningkahi irama musik keroncong itu, keduanya masih tergolong satu keluarga, yaitu brayat alat musik tiup woodwind.

Dalam perjalanan sejarah panjangnya, suling ataupun flute di masa lalu memang dibuat bukan dari metal melainkan dari bahan bambu atau kayu. Sangat sederhana. Cukup dengan sekerat bambu kecil, kasih lubang di sana-sini, lalu dihembus-hembus..., jadilah suling, si buluh perindu. Karena itulah julukan sebagai woodwind instrumen melekat erat kepadanya. Baru di era sekarang saja, flute itu dibuat dari metal.

Ciri flute sebagai keluarga alat musik woodwind terutama dapat kita lihat pada cara mengatur nada yang menggunakan sistim buka tutup lubang pakai jari2 tangan demi mendapatkan nada yang berbeda-beda. Sistim ini identik dengan sistim pengaturan nada di kelompok alat musik woodwind lain, macam clarinet, oboe, basson atau fagot dan tentunya juga saxophone. Jadi jelas bahwa flute itu termasuk kelompok woodwind family alias bukan brasswind (alat musik tiup logam). Gitu....