Lokasi Pengunjung Blog

Tuesday, September 16, 2008

Evolusi Lubang




Lurs, sebelum ada saxophone, alat musik tiup menghadapi kendala berat, yaitu bagaimana membuat alat musik tiup yang mampu bersuara rendah tapi mudah dimainkan. Memang sih, untuk memainkan nada rendah diperlukan sebuah alat yang besar dan panjang. Nah, persoalannya, jari dan jempol yang akan mengoperasikan alat itu langsing adanya, pendek dan tidak bisa melar seenaknya.

Ambil contoh suling bambu yang sering dipakai mengiringi lagu2 dangdut, Kucing Garong, Jablay dsb., itu. Bambu sekerat berlubang enam itu bisa tulat tulit memainkan nada karena lubang kecilnya dibuka dan ditutup pakai jari. Karena letak lubang berdekatan, jari2 kita pun dengan lincah bisa menari-nari di atasnya sambil menghasilkan tangga nada.

Sayangnya, karena keterbatasan, setiap nada dasar berganti, suling pun juga harus diganti. Tak hanya suling, tapi juga clarinet, oboe, bassoon, dsb., merupakan alat musik tiup jaman baheula yang masih berorientasi pada lubang yang sekedarnya. Sekedar ada lubang.

Lantaran berkutat hanya di lubang sempit, problem bagaimana membuat lubang besar tidak terpikirkan. Paling-paling kalau ingin bikin alat yang agak besar, alat itu kemudian dilengkungkan seperti busur sehingga tetap dapat diraih oleh tangan. Pengin yang lebih besar lagi, sudah tak berdaya, sudah apa daya tangan tak sampai.

Ada sih sedikit kemajuan, dengan ditambahkannya lubang serta tangkai-tangkai untuk membuka dan menutup lubang yang berada diluar jangkauan jari. Satu tangkai disiapkan untuk satu lubang tambahan itu. Jempol serta kelingking dilibatkan untuk menanganinya. Nada yang dihasilkan memang bertambah banyak, namun lubang sempit itu masih saja tak terpikirkan untuk dibesarkan.

Sampai suatu saat ketika suling salin rupa menjadi flute. Seseorang telah membuat lubang berjejer dan berjumlah banyak. Lubang itu besar, sampai besarnya jari tidak dapat menutupinya sehingga diperlukan tutup khusus. Nah, kini ujung jari tinggal menekan tutup ini sehingga lubang pun tertutup. Dibuat pula sistem rangkaian yang memungkinkan dua atau tiga tutup bisa menutup sekaligus dengan hanya menekan satu tutup. Sebuah awal yang bagus, meski belum ada juga yang mencoba membesarkan ukuran alat musik tiup itu.

Akhirnya, Adolphe Sax dari Belgia mengatasi kebuntuan itu. Dia membuat alat musik tiup yang gede segede-gedenya, dari bahan kuningan. Alat itu dipatenkan dan diproduksi massal tahun 1846. Julukannya pun diambil dari nama dirinya: SAX-O-PHONE.

Anton Pri/Tina Sax
Sax Mania

No comments: