Lokasi Pengunjung Blog

Monday, September 15, 2008

Sax & nge-Sax pertama


Saxophone tenor itu seperti sedang tidur di dalam kopernya. Tubuhnya besar, melingkar, persis ular phyton kekenyangan. Deg deg an hati ini kala pertama melihatnya.

Mata ini tak jemu-jemunya memandang. Makin dipandang, e.., makin mempesona. Pucuknya sedikit melengkung, bodynya melurus, lalu melengkung lagi. Bonggolnya melebar seperti bunga sedang mekar. Batangnya dipenuhi pilar dan lubang. Ada juga semacam sulur yang menjulur-julur. Di rongganya terlihat ada bekas sarang laba-laba, juga ada bekas telur cicak, pertanda benda itu lama tak disentuh dan tak diurus. Ah..., kacian!

Sejak punya, saban hari latihan, towat towet towet towet tak henti2. Pas sebulan sudah agak lancar. Meniup tidak lagi ngos-ngosan, do re mi juga sudah paham. Lagu Putri Solo bisa didendangkan, lagu Monalisa pun..., lancir. Malah kemudian berani nekat ikut naik pentas mengiringi penyanyi kondang Emilia Contesa, melantunkan lagu berjudul Bunga Flamboyan. "Senja itu..., sang dara...., keguguran...dst" Keliru dikit memang, tapi gak apa2. Namanya juga baru pemula, baru pertama nge-Sax.
Peristiwa itu terjadi pas acara natalan di kantor, sekian tahun (puluh) silam.

Wis jan, saxophone pancen enak...

Salam dahsyat.

Anton Pri/Tina Sax
(We love saxophone, the way they look and the way they sound).

No comments: