Lokasi Pengunjung Blog

Wednesday, October 15, 2008

Belajar do-re-mi ...



Saat saya di sekolah dasar dulu, pak guru dengan telaten mengajari not do re mi. Selalu, setiap belajar lagu, not angkanya dulu yang dinyanyikan dan murid sekelas beramai ramai menyanyi dengan menyebut not not itu. Setelah tahu bagaimana not lagunya, setelah bisa berlagu, baru kemudian not not lagu itu diberi kata kata, dikata katai. Sol la... sol fa mi re...., pribang ..., pribangsaku dst. Sosok pak Guru biasa saja, tapi cara mengajarnya, saya suka.

Ada pula kegiatan "extra kurikuler" ketika itu, yaitu drum band. Saya kebagian pegang belira, alat musik semacam gambang. Cara mainnya dibopong sembari dipukuli. Belira itu inventaris milik sekolahan, jadi tidak bisa dibawa pulang buat latihan dirumah. Apa boleh buat, latihan terpaksa menggunakan "stimulator", menggunakan alat bantu, alat bohongan, yaitu orek orekan gambar di kertas bekas koran. Gambar belira lengkap dengan bilah bilah nadanya itu tentu saja tidak persis dengan belira aslinya, tapi ya lumayanlah.

Belira asli tidak dapat dilipat lipat, tapi yang ini, gambarnya, bisa diuntel untel. Tiap ada kesempatan, untelan kertas itu dibuka lebar, digelar, siap latihan, pra pagelaran...

Lantaran yang dipukuli bukan benda sebenarnya, tapi cuma gambarnya doang, jadi bunyinyapun ya cuma klotak klotek, bukan ting tang ting tong. Begitupun senengnya sudah ngudhubilah!

Demi suksesnya acara latihan, mulut inilah yang kemudian mewakili bunyi notasinya, sol mi... re do re do ... sola la si do si la sol si...,dst. Lagu halo halo bandung dibunyikan notnya saja, tanpa kata kata..., tidak sesumbar. Saking terbiasa dengan cara itu, akhirnya kepala ini dapat merekam secara otomatis not solmisasi setiap lagu. Otomatis solmisasi, tak peduli apa judul atau bagaimana syair lagunya. Saking sudah apal do re mi luar kepala, bahkan suara sepatu kudapun terdengarnya bukan lagi: dug tik dag tik dug, melainkan do mi, sol mi, do, gitu. (Suara kentut..., nadanya do! Tapi agak fales, he he....).

Itu terjadinya sekian puluh tahun lalu, ketika teh manis belum model dibotoli, dan ketika saya masih suka kluyuran, nonton panggung hiburan di keramaian pasar malam sekatenan.

Anton Pri.

No comments: